728X90 AdSpace

News Ticker

Latest Posts
Browsing Category "Cerpen"

Sahabat Saya Cordiaz

- Selasa, 07 Juli 2015 No Comments


Asrul Sani

Penulis sajak, cerita, dan esai ini lahir di Rao, Sumatera Barat. Asrul Sani mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan di Bogor. Ketika revolusi, Asrul memimpin Laskar Rakyat, kemudian masuk tentara, menjadi mahasiswa, dan menerbitkan harian perlawanan Suara Bogor. Korektor di percetakan, redaktur Gema Suasana. Kemudian bersama-sama dengan Rivai Apin dan Siti Nuraini menyelenggarakan redaksi Gelanggang dari warta sepekan Siasat dan sejak Juni 1951 pembantu Zenith. Maret 1952 berangkat ke negeri Belanda untuk menambah pengetahuan. 

Bersama-sama dengan Chairil Anwar dan Rivai Apin menyusun Tiga Menguak Takdir terbitan Balai Pustaka 1950. Menerjemahkan Vercors, Laut Membisu (Le Silence de la Mer) terbitan Balai Pustaka 1949.

Salah satu cerita pendeknya, bertajuk “Sahabat Saya Cordiaz”. Berikut cerpen tersebut dalam Gema Tanah Air:




Cerita ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau tengik yang mesti saya atasi dengan bau obat nyamuk. Selain dari itu, ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak-bercucu. Jadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saya juga seorang proletar. Dan karena proletar seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami sekiranya hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saya ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannya buku-buku saya. Sehingga tak mengherankan, jika saya pagi-pagi harus menemui de Maupassant tak berkepala atau Dos Passos tak berpunggung.

Suatu hari datang seorang anak muda bersepatu putih, bertopi hitam, bajunya belang-belang dan ia memperkenalkan diri kepada saya sebagai: C. Darla. Ia tidak mengatakan apakah ia seorang Indo-Spanyol, atau Manila ataupun orang Indonesia yang berasal dari pulau Enggano (saya mendengar kabar, bahwa orang-orang Enggano masih memakai nama-nama Spanyol). Ia beroleh kamar yang letaknya lebih dekat ke kamar mandi. Bahasa Indonesianya langgam-langgam Singapura bercampur bahasa Inggeris sedikit-sedikit. Demikian ia bercerita tentang “British nébi yang léndid di Singapure.” Saya tertarik kepadanya, karena ia pandai berbicara tentang macam-macam pengalaman yan didapatnya di Singapura. Tentang bajingan-bajingan, “geng” katanya, tentang kaum komunis dan sebagainya. Waktu ia menyusun buku-bukunya, diberikannya buku “Atlantic Charter” kepada saya. Saya makin kagum. Tetapi kemudian hari dikatakannya, bahwa buku roman yang sebagus-bagusnya, ialah buku “Elang Mas” karangan Jusuf Sou’yb. Segera hilang kagum saya. Sungguhpun demikian kami tetap bersahabat.

Pergaulan kami amat rapat, sehingga banyaklah yang berkecil-kecil yang diceritakannya kepada saya. Ia menceritakan, bahwa ia mempunyai darah Spanyol, tetapi ia telah lama tinggal di Indonesia. Sebelum ia datang ke mari, ia berdiam di Singapura. Kedatangannya ke Jakarta membawa kisah sedih. Ia harus meninggalkan kekasihnya seorang gadis Pilipina di Singapura. Sesudah menceritakan itu ia mengetik ucapan-ucapan pernyataan-cinta dalam bahasa Inggeris yang tunggang-balik, lalu ditinggalkan di kamar saya. Tentang pekerjaannya ia tidak pernah berbicara. Hanya ia berangkat pukul 9 dari rumah dan pukul 1 telah ada pula. Tetapi rupanya pekerjaannya amat banyak, sehingga setiap sore ia meminjam mesin ketik, lalu mengetik terus-menerus. Sesudah itu lalu dibakarnya segala kertas yang diketiknya tadi. Lalu ia bersungut-sungut. Kemudian ia datang kepada saya untuk mengatakan, bahwa mesin ketik saya kurang “enak”. Kalau boleh ia hendak membawanya ke bengkel supaya diminyaki. Ini saya izinkan. Lalu ia hendak membelikan saya pita mesin ketik yang berwarna merah-hitam. Itupun saya setujui dengan hati yang tulus-ikhlas. Demikian ia melakukan perbuatan-perbuatan yang ganjil-ganjil dan yang penuh simbolik, sehingga menarik perhatian segala isi rumah. Ia menjadi pusat perhatian. Entah memang itu maksudnya, saya tidak tahu. Tetapi ia berhasil benar, sehingga tiada lagi orang yang menghiraukan keluhan-keluhan saya setiap pagi tentang pengarang anu yang kehilangan kepala atau yang kehabisan punggung ataupun yang pecah-pecah kulit. Demikian saya tinggal dengan teman-teman serikat saya yang menjadi musuh saya dan saya C. Darla yang mengalahkan saya.

Pernah Darla bertanya tentang cinta kepada saya, dan apakah telah banyak pengalaman saya tentang hal ini. Rupanya sangat tertarik benar hatinya akan pokok percakapan ini, sehingga kadang-kadang samoai sekerat malam kami bercakap-cakap. Katanya, ia masih muda, masih ingin melihat dunia dan belum mau kawin. Tetapi ia sekarang sedang tersangkut pada suatu perkara yang sulit. Perkara itu, ialah perkara kasih-sayang juga.

Sekali ia pulang membawa sebuah gelang rantai perak, seperti yang biasa saya lihat dipakai oleh serdadu-serdadu India atau Australia. Gelang itu diperlihatkannya kepada saya. Di sana tertulis: Cordiaz Darla. Jadi sahabat saya itu ialah: Cordiaz. Bukan nama Indonesia. Saya tidak tahu berbahasa Spanyol, tetapi kalau mendengar-dengar bunyinya, ada juga mengarah-arah sedikit. Sama enak kedengarannya, seperti perkataan Ortega dalam buku Ortega y Gasset dan perkataan Fernando dalam nama Fernando Poe. Percakapan kami malam itu dimulainya dengan ketawa besar. Sesudah itu ia berbicara tentan Arni. Saya tidak kenal Arni. Katanya, Arni, ialah “bekas” kekasihnya, dan sekarang gadis itu sudah kurus kering, karena ia tidak pernah datang lagi ke rumahnya. “Tidak ada orang yang dapat menggantikan saya,” katanya. “Huh!! Awak kire awak punya negeri! Ayahnya mesti datang kepada saya, minta ampun, baru saya datang ke sana. Ia mesti mendapat ajaran sedikit.”

“Jadi, menang lagi?” tanya saya.

“Siapa bilang kalah,” katanya.

Saya ikut tertawa karena sahabat saya menang. Tapi, Arni panjang umurnya di rumah kami, karena sahabat saya itu, mempercakapkan Arni saja kerjanya. “Ia tidak dapat bercerai dengan saya. Hatinya hancur luluh,” katanya. “Semua salah bapaknya. Sekarang anaknya makan hati.” Ia makin hari makin tidak senang diam. Surat-surat yang diketiknya makin lama makin banyak. Tetapi sebanyak itu yang diketiknya, sebanyak itu pula yang dibakarnya. Kalau ia tidak menyeterika celananya, ia mengetik, kalau ia tidak mengetik, ia ke luar rumah. Perginya terburu-buru. Tetapi secepat itu perginya, selekas itu pula kembalinya. Kalau sedang makan ia bercerita tentang saya-kasihan-sama-Arni.

Suatu malam ia pulang bergegas-gegas. Terus ke kamar saya.

“Ia mencari dukun,” katanya. “Saya mau diberi guna-guna. Bangsat! Saya juga ada dukun.”

Entah dari mana ia mendapat kemauan untuk pergi kepada dukun, entah dari ibunya, entah dari neneknya orang Spanyol, saya tidak tahu. Pendeknya—ia pergi kepada dukun. Sore-sore itu ia mengirim surat dan suatu bungkusan kepada Arni. Surat dan bungkusan itu kembali malam itu juga. Sesudah menerima itu, rupanya runtuh segala pasak-pasak tubuhnya. Dengan terbungkuk-bungkuk ia masuk ke kamarnya, lalu dikuncinya pintu erat-erat. Esok harinya, waktu saya kembali dari berjalan-jalan, saya lihat kopornya tidak ada lagi. Di atas meja saya ada surat. Di dalamnya tertulis: “Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Rumah ini terlampau ribut buat saya.” Kasihan! Rupanya banyak juga tikus-tikus dalam kamarnya. Dan kawan-kawan serikat saya ini rupanya bertindak sebagai kaum kapitalis, sehingga sahabat saya yang sama proletarnya dengan saya, tidak dapat bersatu dengan mereka—lalu pergi.

Sangka saya selesailah riwayat Cordiaz Darla. Tetapi minggu yang lampau saya mendengar kabar, bahwa ia telah kawin dengan seorang janda yang beranak lima. Saya pergi ke rumahnya. Agak merumuk ia sedikit waktu saya temui. Saya tanyakan bagaimana mereka kawin. “Bagaimana orang Indonesia kawin,” kata istrinya. Perempuan ini peramah betul dan ia lebih berpengalaman dari Darla, sehingga tak dibiarkannya Darla banyak cakap. Ia memperlihatkan surat kawin mereka kepada saya. Saya baca di sana nama: Chaidir Darla, jadi huruf C itu tidak berarti Cordiaz. Namanya memang Chaidir, karena istrinya memanggil, “Dir, Dir!” Jadi ia bukan orang Spanyol atau Pilipina. Waktu saya mau pergi saya katakan kepada Darla, bahwa saya ikut berbesar hati. Saya berjanji akan mendoa-doakan supaya mereka lebih banyak mendapat anak. “Ingat,” kata saya, “Orang tua-tua bilang: banyak anak, banyak padi!” Istrinya tersenyum berseri-seri.

Dua hari yang lalu saya menerima surat dari Darla. Dalam surat itu tertulis: “Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Tolonglah saya!”

Saya maklum sudah. Bagaimana ia akan tahan, kalau hatinya keras untuk jadi orang Spanyol atau orang Pilipina, sedang orang menganggap dia orang Indonesia. Lagi pula apalah salahnya. Bangsa saya banyak sudah yang menjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanya untuk menjadi orang Spanyol. Orang Indonesia belum banyak yang jadi orang Spanyol. Sebab itu saya kirimkan uang 50 rupiah dan saya tulis pada surat pengantarnya: “Untuk ongkos menjadi orang Spanyol.” Surat ini tidak berbalas. Menurut kira-kira saya sudah berhasil kehendaknya.

Tapi tadi pagi, saya lewat bersepeda di depan rumah Darla. Kebetulan saya bertemu dengan bujang perempuannya, lalu saya tanyakan kalau-kalau ia tahu tentang amplop berisi uang yang saya kirimkan.

“Ya, saya sendiri yang kasih sama nyonya,” jawabnya.

“Sama nyonya? Jadi…?”

“Nyonya terus beli kebaya baru.”

“O, bagus, bagus.” (Hati saya berkata, celaka tiga belas).

“Tuan sekarang di mana?”

“Katanya, kerja di bagian distribusi. Masuk dulu tuan!”

“Ndak, ndak. Lain kali saja.”

Saya pergi.

Ah, kandas. Tragis betul. Belum juga rupanya sampai cita-cita Darla untuk bernama: Cordiaz Darla. Tetapi tidak apa, siapa tahu ia besok menjadi orang Jerman atau orang Amerika.

Silakan menafsirkan.. Ulya Narissa

Asa Cemara

- Senin, 29 Juni 2015 No Comments


Ulya Narissa

Aku menerjang lebatnya hujan senja ini. Suara petir yang menggelegar tak ku hiraukan. Sekuat tenaga, aku berusaha menjaga keseimbangan sepeda yang kunaiki aga tak goyah diterpa angin. Meskipun mengenakan jas hujan, tetap saja tubuhku basah kuyup. Sore itu, aku terlanjur nandang janji dengan Cenana, untuk mengambil rok yang kujahitkan pada ibunya. Sarukan, kalau kita sudah terlanjur janji tapi tidak ditepati. Janji itu hutang jika tak segera dilunasi. Makanya, jangan suka mengumbar janji. Begitu kata ibuku tempo hari.

“Ini yang ndesain kamu sendiri Ra?” Tanya Bu Ritmi, sembari melangkah meninggalkan mesin jahitnya dan menghampiriku yang tenggah duduk di samping Cenana.

“Nggeh bu, niku seperti desain yang di butik depan itu lho, Cuma tak modifikasi dikit. Hehe”

“Wah, rancangannya bagus, timeless Ra. Sederhana, tapi nyaman dan elegan. Pas seperti namamu, Cemara itu kan simbol keabadian.” Katanya dengan senyum terkulum.

“Ah ibu, berlebihan.”

“Bahasa gaulnya lebay bu. Haha” Tiba-tiba Cenana menimpali.

“Kalau Cenana, itu berasal dari kata cendana. Pohon cendana kan aromanya wangi. Tapi, Cenana wangi apa ndak ya?” Kita semua tergelak. Keluarga ini begitu hangat, semarak meski sederhana. Tiba tiba aku teringat ibu. Sedang apa dia? Aku rindu ibu. Sudah lama tak pulang ke Temanggung.

“Kata ibu, orang harus memanggilku lengkap. Cemara. Tak boleh Ara, apalagi Cem.” Kita serempak tergelak lagi.

“Hujannya deres banget Nok, disini dulu ya. Lagian, udah lama kamu nggak main kesini.” Segera aku mengiyakan nasehat Bu Ritmi. Beliau sudah seperti ibuku sendiri. Mataku kembali menerawang ke Temanggung.

Semuanya tetap sama. Ibu pasti sedang menyulam dengan kain di tangan kiri dan benang sulam di tangan kanan, duduk di teras rumah sambil menanti kepulanganku. Juga rumah joglo dengan halaman yang luas. Di depan rumah itu terdapat pohon belimbing, pandan wangi yang menyimbolkan kelancaran rezeki, dan bunga melati yang melambangkan keharuman, budi pekerti luhur, serta kesucian.

Suatu kali, pernah ada kunjungan geografi di lembah Sindoro Posong, oleh sekolahku, SMA 09 Semarang. Setelah kunjungan itu, aku memutuskan pulang ke rumah, untuk memberi kejutan pada ibu. Aku merindukannya.

***

Sesampainya di rumah, tak kudapati ibu tengah menyulam di tempat favoritnya. Di ruang tengah juga tidak ada. di mana ibu? Aku bingung. Hingga akhirnya aku mendengar isak tangis seseorang di kamarku. Ibu tak pernah menangis di depanku. Yang kutahu, ibu seorang yang teguh, juga tegar. Dan, ketika aku tahu bahwa yang menangis di kamarku saat itu memang ibu, segera kuhamburkan pelukan pada ibu. Beliau tergagap. Mungkin kaget melihat aku pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Dan akhirnya, mengalirlah cerita tentang masa lalu ibu, yang tak pernah ibu ceritakan selebelumnya.

“Kamu, begitu mirip dengan ayah. Tak hanya ragamu. Jiwamu pun sama.”

“Surat yang ada di tangan ibu, itukan suratku pada ibu. Maafkan Cemara bu, Cemara tak ada di samping ibu ketika ibu kesepian.” Kataku seadanya. Sejujurnya, aku masih bingung.

“ibu ingin menunjukkan pada ayah, kalau putrinya memiliki mimpi yang akan segera terwujud. Spiritnya, semangatnya, kegigihannya sama persis dengan ayahnya.” Ibu tersedu. Dan aku memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Ya, sekarang aku mengerti. Ibu rindu pada ayah. Laki-laki yang tak pernah kujumpai dalam nyata. Barangkali ibupun tahu kalau aku juga punya rindu yang sama pada ayah. Rindu ingin bertemu. Hanya saja, aku tak tahu di mana rimbanya sekarang.

“ibu berpisah dengan ayah karena dia ingin kembali pada keyakinannya yang dulu Nduk,”

“Hanya itu bu?”

“Ya. Sedalam pengetahuan ibu, ayahmu bahagia di sini. Di keluarga ini. Mungkin ia menyimpan rapi gejolak hatinya hingga rasa itu tak mampu lagi  dibendungnya.”

“Ibu tak menanyakan alasan yang lebih kuat?”

“Ayahmu segera pergi setelah melayangkan gugatan cerai pada ibu. Dan berpesan agar ibu merawat kamu dengan seluruh kasih sayang yang ibu miliki.

“’Jika Cemara sudah besar, bantu wujudkan mimpinya. Dan, bekali dia dengan keyakinan yang kuat. Dari dasar hati. Agar dia tidak seperti ayahnya.’ Begitu katanya. Waktu itu kamu masih berusia 3 bulan. Setelah bayangan ayah tak lagi terlihat di tikungan jalan depan rumah, ibu menangis. Pilu. Tak tahu apa yang harus ibu lakukan.”

“ibu.. ” lirih aku berkata.

“ibu, Cemara akan bahagiakan ibu. Cemara sayang ibu.” Kata itulah yang akhirnya kupilih. Akupun tersedu.

“ibu juga sayang Cemara. Semoga nasib malang ibu tak terulang di kehidupanmu, dan kebahagiaan yang belum ibu dapatkan, akan diberikan kepadamu. Termasuk kebahagiaan meraih mimpimu Nduk.”

“Itu semua terjadi juga atas kehendak Yang Kuasa. Ibu hanya menjalaninya.” Ibu tersenyum dengan air mata yang mengalir. Dan aku, bertekat tak akan menyakiti ibu. Aku tak akan memilih laki-laki yang berbeda dengan keyakinanku. Di luar, gerimis perlahan turun. Seolah menyatu dengan irama ibu saat ini.

“Woy, ngelamunin apa sih, Satria ya?” ah, Cenana selalu begitu. Suka membuyarkan lamunan ku tentang ibu.

“Idih, apaan. Sotoy kamu.”

“Halah, ngaku aja. Nih, ada surat bersampul biru lengkap dengan gambar Merpati putih.” Katanya genit seraya menyodorkanku sepucuk surat.

“Dari?” Tanyaku mengernyitkan dahi. Tetapi yang ditanya segera berlalu sebelum menjawab. Menyebalkan. Pelan, kubaca isi surat sampul biru itu.

Untuk Savaria Cemara

Jika hujan tak mau damaikan gelisah hati, bintang gemintang tak mampu sampaikan rasaku padamu, atau sang merpati tak mau menyanyikan kerinduanku, biarlah sepucuk surat ini yang akan menyampaikan alur hati ini padamu.

Dari Ardian Satriagastya

Satria, dia benar-benar menyukaiku. Orang yang mengenalakanku pada mimpi. Kini, aku bahagia sekaligus bingung. Kulangkahkan kakiku menuju teras rumah Cenana. Di atas kursi jati kusandarkan tubuhku. Memejamkan mata. Bayangan Satria berkelindan. Sesaat kemudian berganti bayangan ibu berputar-putar.

kembali teringat olehku awal pertemuan dengannya. Ketika itu sedang ada diskusi di komunitas fotografi yang aku ikuti.

Jadi, untuk menghasilkan gambar yang baik, dibutuhkan fokus pada komposisi dan angel objek. Ngerti? ”

“Iya Mas Satria, trus ini ISOnya buat apaan?” tanyaku polos.

“Namaku bukan Mas Satria.” Katanya seraya menggeleng.

“Lah trus siapa?”

“Tanpa Mas.” Katanya sambil terkekeh.

“Iya Sat, trus ISOnya buat apaan?” Aku sedikit tersipu. Kedekatan jarak membuatku mau tak mau terpesona oleh mata bening nyaris bidadarinya.

“Buat ngukur sensitive cahaya yang masuk ke dalam kamera. Biasanya, ISO yang normal itu 200, nanti kalau cahayanya over diatur aja pake shutternya.” Aku mengangguk tanda mengerti penjelasannya.

“Udah? Ngerti kan sekarang?”

“Aku pulang dulu ya, keburu maghrib nanti.” Sambungnya.

“Iya Sat, hati-hati.”

“Kalungmu  bagus. Da..” dia memuji kalung salib yang selalu kupakai. Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.

Semenjak itu, aku rajin mengikuti komunitas ini. Ingin melihat lekat-lekat mata beningnya Satria yang selalu bersinar. Kalau sudah seperti itu, aku seperti anak kecil yang sedang didongengi ayahnya. Tapi, di hatiku terbesit ketakutan. Bagaimana jika aku jatuh cinta kepadanya? Haruskah aku menyakiti ibu?

***

Begitulah, ketakutanku benar-benar terbukti. Hari Minggu kemarin, aku dan Cenana jalan jalan pagi di sepanjang sawah dekat tempat kosku. Secara kebetulan, aku tak sengaja bertemu dengan Satria yang mengenakan baju koko putih dan sarung abu-abu, tak lupa peci hitam yang membuat para perempuan terpesona melihatnya. Sepertinya dia baru usai dari sholat subuh di Masjid. Aku sempat melongo beberapa detik, dan saat itu kusadari aku telah jatuh cinta padanya.

Kembali kubuka surat dari Satria. Hatiku bergebalau. Aku mencintainya. Tapi bagaimana dengan ibu? Dia satu-satunya yang kumiliki. Pilihan yang sulit. Getir mengingat tangis ibu yang merindukan ayah, namun tak tega membunuh rasa yang perlahan mulai tumbuh.

Tuhan, mohon tuntun aku kali ini. Aku tak mungkin menyakiti Satria, apalagi ibu. Aku membuang nafas panjang. Dan mulai menuai harapan. Aku mungkin tak bisa merubah sakit hati ibu menjadi perasaan bahagia. Tapi, aku bisa meyakinkan diri, untuk mencoba mengarungi rasa ini. Entah di tikungan mana nanti kami berpisah, itu takdir Tuhan. Paling tidak, aku telah mencoba menjalaninya. Mungkin aku terkesan acuh, tapi cinta bisa membuat siapapun melakukan itu. Ya aku akan mencobanya, meskipun nanti lara hati.

Ibu, restuilah putrimu. Dengan restumu, aku akan kuat jika lara hati nanti. Cemara tak akan menyalahkan nasib, karena mungkin itu memang takdirku.